Payakumbuh — Pemerintah Kota Payakumbuh melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan terus memperkuat upaya pelestarian warisan budaya dan sejarah daerah melalui kegiatan Sosialisasi Identifikasi, Pendaftaran dan Digitalisasi Naskah Kuno Tahun 2026, Kamis (27/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai III Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh tersebut dibuka oleh Wali Kota Payakumbuh, melalui Staf Ahli Wali Kota Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM), Erizon.

Sosialisasi diikuti sekitar 40 peserta yang terdiri dari Ketua KAN dan Ketua Bundo Kanduang dari 10 nagari se-Kota Payakumbuh, penulis, budayawan serta pemerhati naskah kuno. Hadir sebagai narasumber Prof. Pramono, Ph.D., Guru Besar Kajian Manuskrip Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.

Dalam sambutannya, Erizon menyampaikan bahwa naskah kuno bukan sekadar benda lama, tetapi merupakan sumber pengetahuan dan rekam jejak perjalanan peradaban masyarakat.

“Naskah kuno adalah jendela peradaban. Di dalamnya tersimpan pikiran, ilmu pengetahuan, sistem hukum, pengobatan, seni, kearifan lokal, dan jati diri masyarakat yang diwariskan oleh para pendahulu kita,” ujarnya.

Menurutnya, Kota Payakumbuh memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari keberadaan berbagai warisan budaya yang masih tersimpan di tengah masyarakat, termasuk di rumah-rumah warga, surau dan lembaga adat.

Karena itu, Pemerintah Kota Payakumbuh mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pemilik naskah, lembaga adat, komunitas dan perguruan tinggi untuk memastikan naskah-naskah tersebut dapat teridentifikasi, terdata, dirawat dan dilestarikan.

“Jangan biarkan sejarah kita punah karena kelalaian kita hari ini. Jadikan pelestarian naskah kuno sebagai bagian dari upaya menjaga identitas, sejarah, budaya dan memori kolektif masyarakat Kota Payakumbuh,” katanya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh, Erwan, mengatakan keberadaan naskah kuno yang masih tersimpan secara pribadi di tengah masyarakat merupakan kekayaan intelektual dan sejarah yang sangat berharga bagi daerah.

Untuk itu, ia mengajak masyarakat yang memiliki naskah kuno, manuskrip, catatan sejarah, surat-surat lama atau dokumen bernilai sejarah lainnya untuk bersama-sama menyelamatkan informasi yang terkandung di dalamnya.

“Kami mengimbau kepada masyarakat yang memiliki koleksi naskah kuno agar dapat menghubungi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh. Naskah tersebut tidak harus diserahkan kepada pemerintah. Kami dapat membantu melakukan duplikasi atau alih media digital, sehingga informasi dan isi naskah dapat dilestarikan tanpa menghilangkan kepemilikan masyarakat,” ujar Erwan.

Ia menegaskan, digitalisasi menjadi salah satu langkah penting untuk mengantisipasi kerusakan fisik naskah akibat usia, kelembapan, bencana maupun faktor lingkungan lainnya.

“Kalau fisiknya dimiliki oleh keluarga atau ahli waris, tetap menjadi bagian dari koleksi mereka. Yang kita selamatkan bersama adalah informasinya. Dengan adanya salinan digital, kita memiliki dokumentasi yang dapat menjadi sumber pengetahuan dan memori kolektif daerah untuk generasi mendatang,” jelasnya.

Erwan juga berharap masyarakat tidak ragu untuk melaporkan keberadaan naskah kuno kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan. Menurutnya, semakin banyak naskah yang berhasil diidentifikasi dan didokumentasikan, semakin lengkap pula gambaran sejarah dan kebudayaan Kota Payakumbuh yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kegiatan sosialisasi ini tidak hanya memberikan pemahaman mengenai pentingnya keberadaan naskah kuno, tetapi juga membekali peserta dengan pengetahuan mengenai identifikasi, pendaftaran, pendataan dan digitalisasi naskah kuno.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan berharap hasil dari kegiatan tersebut dapat ditindaklanjuti dengan semakin banyaknya naskah kuno yang teridentifikasi dan terdokumentasi secara baik.

Naskah-naskah tersebut nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran, penelitian, pengembangan literasi sejarah, penguatan identitas budaya serta bahan edukasi bagi generasi muda.

“Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi juga rumah peradaban. Karena itu, kami ingin memastikan jejak pengetahuan dan sejarah yang ada di tengah masyarakat Payakumbuh dapat diselamatkan dan diwariskan,” pungkas Erwan.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Payakumbuh menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem pelestarian naskah kuno berbasis kolaborasi masyarakat dan pemerintah, sehingga warisan pengetahuan, sejarah dan kearifan lokal tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dapat terus hidup dan memberikan manfaat bagi generasi masa kini dan masa depan. (Syafrianto,I)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *