Payakumbuh — Pemerintah Kota Payakumbuh melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia akan menggelar Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026 pada 23–24 September 2026.

Mengusung tema “Buku Gerakan Kreasi, Literasi Nyalakan Generasi”, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat budaya literasi sekaligus mendorong kreativitas masyarakat dan generasi muda di Kota Payakumbuh

Festival tersebut dipusatkan di Perpustakaan Daerah Kota Payakumbuh, Bukik Sibaluik, selama dua hari, yakni 23–24 September 2026, dengan rangkaian kegiatan berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB

Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026 tidak hanya menghadirkan kegiatan membaca dan diskusi buku, tetapi juga menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat, pegiat literasi, pelaku UMKM, komunitas, dan generasi muda untuk berbagi pengetahuan serta menampilkan kreativitas.

Beragam agenda telah disiapkan selama festival berlangsung, di antaranya Bedah buku & Pameran dan Bazar buku bagi para pecinta literasi, Gelar Wicara Cerdas Digital serta Gelar wicara UMKM untuk wawasan teknologi dan bisnis lokal, bazar buku, Mendongeng dan Read Aloud bersama kegiatan Bertutur yang cocok untuk anak-anak dan keluarga, tayangan video literasi, serta hiburan dan pembagian door prize.

Kegiatan tersebut akan dibuka langsung oleh Wali Kota Payakumbuh Dr. dr. Zulmaeta, Sp.OG-KFM, bersama Bunda Literasi Kota Payakumbuh Ny. Eni Zulmaeta.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh Erwan mengatakan, festival literasi menjadi salah satu upaya pemerintah daerah untuk memperluas pemaknaan terhadap literasi. Menurutnya, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat mengolah pengetahuan menjadi gagasan, kreativitas, dan karya.

“Literasi harus hadir di tengah kehidupan masyarakat. Buku bukan hanya untuk dibaca, tetapi dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan gagasan dan kreativitas. Karena itu, melalui Festival Literasi ini kita ingin menghadirkan ruang yang menyenangkan bagi masyarakat untuk membaca, berdiskusi, berkarya, sekaligus berinteraksi,” kata Erwan.

Menurut Erwan, perpustakaan juga memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang memiliki kemampuan literasi. Perpustakaan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi harus mampu berkembang menjadi ruang belajar, ruang kreativitas, ruang kolaborasi, dan ruang bertemunya berbagai komunitas masyarakat.

“Semangatnya adalah bagaimana literasi dapat menjadi gerakan bersama. Pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas, pelaku UMKM, seniman, penulis, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem literasi,” ujarnya.

Sejumlah pegiat, praktisi, dan penggiat literasi turut dihadirkan dalam Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026. Mereka antara lain Muhammad Subhan, Uda Rio, Laurencia De Richo, Yusrina Sri, Suci Permata, Kak Dedew, dan Lindawati, yang akan berbagi wawasan dan pengalaman dalam berbagai agenda literasi selama festival berlangsung.

Kehadiran para narasumber tersebut akan memperkaya wawasan masyarakat melalui berbagi pengalaman dan perspektif seputar kepenulisan, literasi, kreativitas, serta berbagai aktivitas yang dapat dikembangkan dari budaya membaca dan belajar.

Tak hanya menghadirkan diskusi dan berbagai kegiatan literasi, Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026 juga memberikan ruang bagi seni dan budaya lokal. Sanggar Seni Lindang Urek akan tampil dalam rangkaian festival, sementara Alif, Juara 1 Lomba Bertutur Kota Payakumbuh, turut hadir menampilkan kemampuan bertuturnya sebagai bentuk apresiasi terhadap generasi muda yang berprestasi di bidang literasi.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh berharap Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026 dapat menjadi momentum untuk semakin mendekatkan perpustakaan dan gerakan literasi dengan masyarakat..

Lebih dari sekadar mendorong minat baca, festival ini diarahkan untuk menumbuhkan kreativitas generasi muda sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya dan kearifan lokal di tengah pesatnya perkembangan teknologi serta derasnya arus informasi.

“Harapan kita, setelah festival ini selesai, gerakan literasi tidak berhenti. Justru kegiatan ini menjadi pemantik agar masyarakat semakin dekat dengan buku, perpustakaan, pengetahuan, dan berbagai aktivitas kreatif,” kata Erwan.

Melalui festival tersebut, Pemerintah Kota Payakumbuh ingin memastikan bahwa literasi tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan seremonial, tetapi tumbuh menjadi gerakan masyarakat yang berkelanjutan—gerakan yang mendorong masyarakat untuk membaca, belajar, berkarya, dan menciptakan berbagai inovasi dari pengetahuan yang dimiliki.

Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026 terbuka untuk masyarakat umum. Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Payakumbuh mengajak seluruh lapisan masyarakat menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, sekaligus sebagai kekuatan untuk membentuk generasi yang kreatif, adaptif, inovatif, dan berdaya saing.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan yang diusung dalam festival ini: “Buku Bergerak, Kreativitas Tumbuh. Literasi Menyala, Generasi Berdaya.” (Syafrianto.I)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *