
PAYAKUMBUH – Ada tawa, tepuk tangan, wajah-wajah penuh kegembiraan, dan semangat yang menyala di halaman Gedung Perpustakaan Daerah Kota Payakumbuh. Ribuan pasang mata tertuju pada penampilan Uda Rio yang berhasil memukau pengunjung pada penutupan Festival Literasi Kota Payakumbuh Tahun 2026, Rabu (14/10/2026).
Ribuan Warga Padati Halaman Perpusda, Uda Rio Tutup Festival Literasi Payakumbuh dengan Kesan Mendalam. Di tengah kemeriahan itu, tersimpan harapan besar, agar kecintaan terhadap buku, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan belajar terus tumbuh di hati masyarakat, bahkan setelah panggung festival berakhir.
Selama dua hari, 13–14 Oktober 2026, halaman perpustakaan menjadi ruang perjumpaan yang penuh warna. Anak-anak datang membawa rasa ingin tahu, orang tua mendampingi dengan penuh perhatian, komunitas berbagi karya, dan para pegiat literasi menghadirkan gagasan. Perpustakaan yang selama ini dikenal sebagai tempat mencari buku menjelma menjadi ruang yang hidup, tempat masyarakat berkumpul, belajar, tertawa, dan menemukan inspirasi bersama.
Penampilan Uda Rio menjadi salah satu momen yang paling menyita perhatian. Antusiasme penonton menghidupkan suasana hingga halaman Perpusda dipenuhi energi kegembiraan. Riuh tepuk tangan dan sorak pengunjung menjadi gambaran betapa literasi dapat hadir dengan wajah yang ramah, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Namun, di balik kemeriahan panggung, ada sesuatu yang lebih penting untuk dibawa pulang. Festival ini bukan sekadar perayaan selama dua hari, bukan pula hanya tentang penampilan yang menghibur atau kegiatan yang ramai dikunjungi. Lebih dari itu, festival ini adalah ikhtiar menumbuhkan harapan bahwa membaca, belajar, dan berkarya dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari setiap keluarga di Kota Payakumbuh.
Pada sesi penutup, perhatian pengunjung juga diarahkan pada tema “Cerdas Digital: Membentengi Diri dari Banjir Informasi.” Sebuah pesan yang terasa semakin penting di tengah kehidupan masyarakat yang tidak pernah lepas dari layar telepon genggam, media sosial, dan derasnya arus informasi.
Hari ini, informasi datang begitu cepat. Berita, kabar, pendapat, bahkan informasi yang belum tentu benar dapat menyebar hanya dalam hitungan detik. Tanpa kecakapan memilah dan memeriksa kebenarannya, masyarakat dapat dengan mudah terjebak dalam kabar bohong, kesalahpahaman, dan informasi yang menyesatkan.
Karena itu, cerdas digital bukan sekadar mampu menggunakan teknologi. Masyarakat perlu membangun kebiasaan berpikir kritis, memeriksa sumber informasi, tidak terburu-buru menyebarkan kabar, serta memahami bahwa setiap tindakan di ruang digital memiliki konsekuensi.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa literasi adalah bekal kehidupan. Anak-anak perlu tumbuh dengan kemampuan membaca dan berpikir kritis. Orang tua perlu mendampingi mereka menghadapi dunia digital. Sementara itu, seluruh masyarakat perlu terus belajar agar tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga pengguna informasi yang bijak dan bertanggung jawab.
Di sinilah perpustakaan menemukan maknanya yang lebih luas: bukan hanya menjaga buku, tetapi ikut menjaga tumbuhnya pengetahuan, nalar, dan kebijaksanaan masyarakat.
Terima Kasih yang Tumbuh dari Kebersamaan, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh, Erwan, menyampaikan rasa puas dan apresiasi atas pelaksanaan Festival Literasi Kota Payakumbuh Tahun 2026. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga Kota Payakumbuh dan semua pihak yang telah mendukung, berpartisipasi, serta ikut menyukseskan rangkaian kegiatan.
Baginya, antusiasme masyarakat yang hadir menjadi salah satu hal penting dari pelaksanaan festival. Kehadiran warga, keterlibatan komunitas, dukungan para pegiat literasi, kontribusi narasumber, serta kerja sama berbagai pihak menunjukkan bahwa membangun budaya literasi bukanlah pekerjaan satu instansi semata. Ia membutuhkan kepedulian dan gerakan bersama.
Apresiasi juga ditujukan kepada seluruh pihak yang telah mencurahkan waktu, tenaga, gagasan, dan dukungan agar festival dapat berlangsung dengan baik. Di balik sebuah kegiatan yang terlihat meriah, ada banyak tangan yang bekerja, ada persiapan yang dilakukan, dan ada komitmen untuk menghadirkan ruang belajar yang bermanfaat bagi masyarakat.
Kebersamaan itulah yang menjadi kekuatan sesungguhnya. Sebab, keberhasilan sebuah festival tidak hanya terlihat dari ramainya pengunjung atau meriahnya panggung, tetapi juga dari seberapa banyak orang yang merasa dilibatkan, memperoleh pengalaman berharga, dan pulang membawa semangat baru untuk terus belajar.
Panggung Boleh Usai, Semangat Literasi Jangan Berhenti
Festival Literasi Kota Payakumbuh Tahun 2026 diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Payakumbuh melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dengan tema “Buku Gerakan Kreasi, Literasi Nyalakan Generasi.”
Tema tersebut bukan sekadar rangkaian kata. Ia merupakan ajakan untuk menjadikan buku sebagai pintu menuju pengetahuan, kreativitas sebagai jalan melahirkan gagasan, dan literasi sebagai bekal membangun generasi yang lebih siap menghadapi masa depan.
Ketika lampu panggung meredup dan pengunjung berangsur meninggalkan halaman perpustakaan, semoga ada sesuatu yang tetap tinggal di hati mereka: keinginan untuk membaca lebih banyak, keberanian untuk mencoba hal baru, kepedulian untuk berbagi pengetahuan, serta kesadaran bahwa belajar tidak mengenal batas usia.
Barangkali, bagi seorang anak, festival ini akan menjadi kenangan pertama tentang betapa menyenangkannya berada di tengah buku dan cerita. Bagi orang tua, kegiatan ini mungkin menumbuhkan keinginan untuk lebih sering mendampingi anak membaca. Bagi seorang penulis, festival ini bisa menjadi dorongan untuk melahirkan karya berikutnya. Dan bagi masyarakat, perjumpaan ini menjadi pengingat bahwa perpustakaan adalah rumah bersama yang selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin bertumbuh.
Dua hari mungkin terasa singkat. Namun, harapan yang ditanamkan melalui buku, cerita, kreativitas, dan kebersamaan dapat tumbuh jauh lebih lama. Festival boleh berakhir, panggung boleh kembali sunyi, tetapi harapan yang dinyalakan melalui literasi harus terus hidup. Sebab, masa depan sebuah kota tidak hanya dibangun dengan gedung dan jalan, tetapi juga dengan pengetahuan, karakter, dan generasi yang tidak pernah berhenti belajar. (Syafrianto, I).



0 Komentar