PAYAKUMBUH – Ada rindu yang tak selalu menemukan kata-kata. Ada cinta yang tak selalu terucap, tetapi diam-diam menetap paling dalam di hati. Dan ada sosok ayah, yang kehadirannya sering kali baru benar-benar terasa ketika jarak, waktu, atau keadaan membuat kita ingin kembali memeluknya.

Nuansa itulah yang menghidupkan kegiatan bedah buku “Ayah Temui Aku di Sini” dalam rangkaian Festival Literasi Kota Payakumbuh Tahun 2026. Menghadirkan Muhammad Subhan dan Yusrina Sri sebagai narasumber, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara karya sastra, pengalaman hidup, dan perasaan yang mungkin selama ini tersimpan di dalam diri pembaca. Selasa (13/10/2026).

Buku bukan sekadar rangkaian kata yang dibaca halaman demi halaman. Terkadang, ia menjadi cermin yang mempertemukan seseorang dengan kenangan masa lalu, menghadirkan kembali suara yang dirindukan, atau mengingatkan tentang orang-orang terkasih yang kehadirannya begitu berarti dalam perjalanan hidup.

Melalui diskusi ini, peserta diajak menyelami pesan dan makna yang terkandung dalam “Ayah Temui Aku di Sini”. Sosok ayah menjadi pintu masuk untuk merenungkan arti kasih sayang, kerinduan, hubungan keluarga, serta betapa berharganya kehadiran seseorang dalam kehidupan kita.

Muhammad Subhan dan Yusrina Sri mengajak peserta melihat sebuah buku bukan hanya dari apa yang tertulis, tetapi juga dari rasa dan pengalaman yang tumbuh ketika sebuah cerita dibaca dan dimaknai. Sebab, setiap pembaca bisa menemukan kisahnya sendiri di antara baris-baris kalimat tentang ayah yang masih bisa dipeluk, ayah yang jauh di perantauan, atau ayah yang kini hanya bisa dikenang dalam doa.

Di situlah kekuatan literasi menemukan maknanya. Membaca tidak hanya menghidupkan pikiran, tetapi juga melembutkan hati. Sebuah cerita mampu mengajak manusia berhenti sejenak dari kesibukan, menengok kembali hubungan dengan orang-orang terdekat, dan menyadari bahwa waktu bersama keluarga adalah sesuatu yang tidak selalu bisa diulang.

Kegiatan bedah buku ini sekaligus memperlihatkan bahwa Festival Literasi Kota Payakumbuh bukan hanya menghadirkan buku sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya empati, perenungan, dan kemanusiaan. Literasi hadir bukan semata-mata untuk membuat masyarakat semakin tahu, melainkan juga agar manusia semakin mampu memahami dan menghargai satu sama lain.

Melalui berbagai kegiatan yang mempertemukan penulis, pembaca, dan masyarakat, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh terus berupaya menumbuhkan kecintaan terhadap buku serta membangun budaya literasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sebab, pada akhirnya, ada buku yang selesai dibaca lalu terlupakan. Namun, ada pula buku yang setelah ditutup justru meninggalkan cerita panjang di dalam hati.

“Ayah Temui Aku di Sini” mengingatkan kita bahwa di tengah perjalanan hidup yang terus bergerak, ada kasih sayang yang layak dirawat, ada kerinduan yang perlu dimaknai, dan ada orang-orang terkasih yang kehadirannya jangan sampai baru kita sadari ketika kesempatan untuk bersama tak lagi sama.

Barangkali, setelah membaca dan membicarakan buku ini, ada peserta yang pulang dengan keinginan sederhana: menelepon ayah, menyapanya lebih lama, memeluknya lebih erat, atau sekadar mengucapkan kalimat yang mungkin sudah lama tertahan.

Sebab, terkadang, hadiah paling berharga dari sebuah buku bukanlah pengetahuan baru, melainkan keberanian untuk mengungkapkan cinta sebelum waktu mengambil kesempatan itu. Dan mungkin, di sanalah literasi benar-benar menyentuh kehidupan ketika sebuah cerita tidak hanya dibaca oleh mata, tetapi juga sampai ke hati. (Syafrianto,I)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *