Payakumbuh — Setelah sebelumnya ditunda akibat kondisi kualitas udara yang terdampak kabut asap, Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026 dipastikan digelar pada 13–14 Oktober 2026.

Pemerintah Kota Payakumbuh melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia akan menghadirkan festival literasi tersebut selama dua hari di Perpustakaan Daerah Kota Payakumbuh, Bukik Sibaluik.

Mengusung tema “Buku Gerakan Kreasi, Literasi Nyalakan Generasi”, Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026 menjadi momentum untuk memperkuat budaya literasi sekaligus mendorong buku dan pengetahuan menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya kreativitas generasi muda.

Sebelumnya, festival yang direncanakan berlangsung pada September 2026 harus ditunda karena kondisi udara yang tidak mendukung akibat kabut asap. Setelah mempertimbangkan perkembangan kondisi, kegiatan tersebut kini dipastikan dilaksanakan pada Selasa–Rabu, 13–14 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut direncanakan akan dibuka oleh Wali Kota Payakumbuh Dr. dr. Zulmaeta, Sp.OG-KFM,. Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026 akan berlangsung selama dua hari, mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB, dan terbuka bagi seluruh masyarakat umum untuk mengikuti berbagai rangkaian kegiatan literasi yang telah disiapkan.

Berbagai agenda telah disiapkan untuk meramaikan festival, mulai dari bedah buku, pameran dan bazar buku, gelar wicara Cerdas Digital, gelar wicara UMKM, mendongeng, Read Aloud, Lomba Bertutur, tayangan video literasi, hingga hiburan dan pembagian door prize.

Festival ini tidak hanya menghadirkan kegiatan membaca dan diskusi buku, tetapi juga menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat, pegiat literasi, pelaku UMKM, komunitas, keluarga, serta generasi muda untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan kreativitas.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh, Erwan, mengatakan bahwa pelaksanaan kembali festival setelah penundaan merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah untuk terus menghidupkan gerakan literasi di tengah masyarakat.

Menurutnya, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu mengolah pengetahuan menjadi gagasan, kreativitas, dan karya.

“Literasi harus hadir di tengah kehidupan masyarakat. Buku bukan hanya untuk dibaca, tetapi dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan gagasan dan kreativitas. Karena itu, melalui Festival Literasi ini kita ingin menghadirkan ruang yang menyenangkan bagi masyarakat untuk membaca, berdiskusi, berkarya, sekaligus berinteraksi,” kata Erwan.

Erwan menambahkan, perpustakaan memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang memiliki kemampuan literasi. Perpustakaan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi berkembang menjadi ruang belajar, ruang kreativitas, ruang kolaborasi, dan ruang bertemunya berbagai komunitas masyarakat.

“Semangatnya adalah bagaimana literasi dapat menjadi gerakan bersama. Pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas, pelaku UMKM, seniman, penulis, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem literasi,” ujarnya.

Sejumlah pegiat, praktisi, dan penggiat literasi turut dihadirkan dalam Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026. Mereka antara lain Muhammad Subhan, Uda Rio, Syawlani Affandi, Yusrina Sri, Suci Permata, Kak Dedew, dan Lindawati.

Para narasumber tersebut akan berbagi wawasan dan pengalaman dalam berbagai agenda festival, khususnya terkait kepenulisan, literasi, kreativitas, serta berbagai aktivitas yang dapat dikembangkan dari budaya membaca dan belajar.

Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026 juga memberikan ruang bagi seni dan budaya lokal. Sanggar Seni Lindang Urek akan tampil dalam rangkaian festival, sementara Alif, Juara 1 Lomba Bertutur Kota Payakumbuh, turut hadir menampilkan kemampuan bertuturnya sebagai bentuk apresiasi terhadap generasi muda yang berprestasi di bidang literasi.

Selain itu, penampilan Adit, seorang penyandang disabilitas, turut menghadirkan pesan inspiratif sekaligus memperkuat komitmen untuk menciptakan ruang interaksi yang inklusif, ramah, dan setara bagi semua kalangan.

Erwan berharap, pelaksanaan Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026 tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu menjadi pemantik lahirnya gerakan literasi yang berkelanjutan.

“Harapan kita, setelah festival ini selesai, gerakan literasi tidak berhenti. Justru kegiatan ini menjadi pemantik agar masyarakat semakin dekat dengan buku, perpustakaan, pengetahuan, dan berbagai aktivitas kreatif,” kata Erwan.

Lebih dari sekadar mendorong minat baca, festival ini diarahkan untuk menumbuhkan kreativitas generasi muda sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya dan kearifan lokal di tengah pesatnya perkembangan teknologi serta derasnya arus informasi.

Melalui Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026, Pemerintah Kota Payakumbuh ingin memastikan bahwa literasi tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan seremonial, tetapi tumbuh menjadi gerakan masyarakat yang berkelanjutan, gerakan yang mendorong masyarakat untuk membaca, belajar, berkarya, dan menciptakan berbagai inovasi dari pengetahuan yang dimiliki.

Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026 terbuka untuk masyarakat umum. Seluruh lapisan masyarakat diajak untuk hadir dan menjadi bagian dari gerakan literasi, sekaligus menjadikan buku, perpustakaan, dan pengetahuan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan yang diusung dalam festival ini “Buku Bergerak, Kreativitas Tumbuh. Literasi Menyala, Generasi Berdaya.” (Syafrianto.I)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *