
Payakumbuh — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh menunda pelaksanaan Festival Literasi Kota Payakumbuh Tahun 2026 yang sebelumnya dijadwalkan pada 23–24 September 2026.
Penundaan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipatif menyikapi kondisi cuaca dan kualitas udara akibat kabut asap yang saat ini kurang kondusif di sejumlah wilayah Sumatera Barat khususnya Kota Payakumbuh. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan aspek kesehatan dan keselamatan masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda yang menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan festival.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh, Erwan, mengatakan bahwa penundaan bukan berarti membatalkan semangat Festival Literasi. Menurutnya, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas ketika kondisi lingkungan berpotensi memengaruhi kesehatan peserta dan masyarakat yang hadir.
“Kita tentu sangat berharap Festival Literasi Kota Payakumbuh dapat terlaksana dengan baik. Namun, dalam kondisi seperti sekarang, kesehatan dan keselamatan masyarakat harus menjadi pertimbangan utama. Kita tidak ingin mengambil risiko, terutama terhadap anak-anak dan generasi muda,” ujar Erwan.
Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026 mengusung tema “Buku Gerakan Kreasi, Literasi Nyalakan Generasi”, dirancang sebagai ruang perjumpaan masyarakat dengan buku, pengetahuan, kreativitas, seni, serta berbagai aktivitas literasi yang inspiratif. ini menjadi momentum untuk memperkuat budaya literasi sekaligus mendorong kreativitas masyarakat dan generasi muda di Kota Payakumbuh.
Kegiatan tersebut sedianya menghadirkan berbagai agenda, di antaranya Bedah buku & Pameran dan Bazar buku bagi para pecinta literasi, Gelar Wicara Cerdas Digital serta Gelar wicara UMKM untuk wawasan teknologi dan bisnis lokal, bazar buku, Mendongeng dan Read Aloud bersama kegiatan Bertutur yang cocok untuk anak-anak dan keluarga, tayangan video literasi, serta hiburan dan pembagian door prize. Festival juga melibatkan pegiat literasi, penulis, pendongeng, seniman, serta komunitas dari Kota Payakumbuh dan Sumatera Barat.
Pemerintah Kota Payakumbuh resmi menerbitkan Surat Edaran Wali Kota Payakumbuh Nomor: 31/ED/WK-PYK/2026 tentang Kewaspadaan Kabut Asap Terhadap Kesehatan. Serta Instruksi Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh Nomor 100.3.4/83.a/KURSD/2026 tentang Pembatasan Kegiatan di Luar Ruangan.
Langkah ini diambil sebagai pertimbangan untuk melindungi masyarakat dari potensi gangguan kesehatan akibat paparan kualitas udara yang memburuk.
Melalui Surat Edaran tersebut, Wali Kota Payakumbuh mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk memperhatikan dan menerapkan beberapa poin penanganan serta tindakan pencegahan berikut:
- Pantau Informasi Kualitas Udara Secara Berkala, Pantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau Air Quality Index (AQI) melalui aplikasi resmi seperti IQAir maupun aplikasi BMKG.
- Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan: Mengurangi kegiatan di luar rumah saat kondisi kualitas udara terindikasi tidak sehat.
- Gunakan Masker yang Tepat: Jika harus beraktivitas di luar rumah saat polusi tinggi, gunakan masker standar (PM2.5) dengan cara yang benar.
- Jaga Kualitas Udara Dalam Rumah tetap bersih.
- Kenali gejala seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, nyeri dada, mata perih/berair, iritasi tenggorokan, atau pusing, dan segera cari pertolongan medis.
- Jaga Daya Tahan Tubuh: memperbanyak minum air putih (minimal 8 gelas per hari), makanan bergizi seimbang, memperbanyak buah dan sayur kaya vitamin C serta antioksidan, dan istirahat yang cukup.
Pemerintah Kota Payakumbuh berharap seluruh elemen masyarakat dapat saling menjaga dan mematuhi panduan ini guna mengantisipasi risiko penyakit ISPA dan gangguan kesehatan lainnya akibat dampak kabut asap.
Penundaan Festival Literasi ini juga sejalan dengan langkah antisipatif Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam merespons kondisi kualitas udara. “Jangan Tunggu Udara Memburuk Baru Bertindak.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kondisi udara dapat berubah sewaktu-waktu sehingga kewaspadaan dan langkah perlindungan masyarakat harus dilakukan lebih awal. Hasil pemantauan kualitas udara ambien di sejumlah wilayah Sumatera Barat menunjukkan kondisi yang fluktuatif. Parameter PM2,5 bahkan dapat berada pada kategori Sangat Tidak Sehat.
Merespons kondisi tersebut, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah meminta pemerintah kabupaten dan kota memperkuat pemantauan kualitas udara sekaligus mengambil langkah antisipatif untuk melindungi masyarakat. Arahan tersebut dituangkan melalui Surat Edaran Gubernur Sumatera Barat Nomor 660/975/SE/BPBD-2026 tentang Antisipasi Dampak Penurunan Kualitas Udara.
Pemerintah daerah diminta memastikan informasi mengenai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tersedia secara cepat, tepat, dan terbuka. Dengan informasi tersebut, masyarakat dapat mengetahui kondisi udara di wilayahnya dan menyesuaikan aktivitas ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.
Masyarakat juga diimbau menghindari pembakaran terbuka, menggunakan masker yang tepat ketika beraktivitas di luar ruangan, serta mengurangi aktivitas fisik dalam waktu lama apabila kualitas udara memburuk.
Perlindungan khusus juga perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan asma, PPOK, penyakit jantung, dan penyakit penyerta lainnya.
“Kita tidak ingin menunggu kondisi memburuk baru bertindak. Dengan pemantauan yang baik, informasi yang terbuka dan kepedulian bersama, kita bisa mengambil langkah lebih awal untuk melindungi kesehatan masyarakat,” tegas Gubernur Mahyeldi.
Karena perlindungan masyarakat bukan tentang menunggu masalah datang. Tetapi tentang membaca risiko dan bertindak sebelum terlambat.
Festival Ditunda, Semangat Literasi Tetap Menyala, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang telah mempersiapkan dan mendukung Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026, termasuk para narasumber, pegiat literasi, komunitas, pelaku UMKM, seniman, sekolah, serta masyarakat yang telah menantikan kegiatan tersebut.
Jadwal pelaksanaan Festival Literasi Kota Payakumbuh 2026 yang baru akan diinformasikan lebih lanjut melalui kanal resmi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh.
“Penundaan ini adalah keputusan yang kami ambil dengan penuh pertimbangan. Kami mohon pengertian seluruh masyarakat dan pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Mengingat Festival Literasi Kota Payakumbuh Tahun 2026 memiliki sejumlah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan di luar ruangan dan di lapangan, sehingga kondisi lingkungan menjadi salah satu hal yang sangat penting untuk kami pertimbangkan. Insyaallah, ketika kondisi sudah lebih kondusif, Festival Literasi akan kembali kita hadirkan dengan semangat yang sama,” kata Erwan.
Bagi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Payakumbuh, literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi juga tentang kemampuan membaca keadaan, memahami risiko, mengambil keputusan dan bertindak secara bijak.
Karena itu, dalam situasi kualitas udara yang belum sepenuhnya kondusif, menjaga kesehatan juga merupakan bagian dari gerakan literasi yakni literasi terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Festival boleh ditunda. Semangat literasi tidak boleh padam. Buku bergerak, kreativitas tumbuh. Literasi menyala, generasi berdaya. (Syafrianto,I)
0 Komentar