PAYAKUMBUH – Literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi juga tentang kemampuan mengolah informasi, membangun identitas, dan menyampaikan nilai sebuah produk kepada masyarakat. Jangan biarkan produk unggulan hanya dikenal di lingkungan sendiri. Saatnya produk lokal tampil lebih percaya diri, bercerita lebih menarik, dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Semangat inilah yang diangkat dalam talkshow branding UMKM bertajuk “UMKM Naik Kelas Lewat Literasi Branding dan Konten” pada Festival Literasi Kota Payakumbuh Tahun 2026. Lebih dari sekadar kegiatan berbagi pengetahuan, juga membawa pesan bahwa pelaku UMKM memiliki kesempatan untuk berkembang di tengah perubahan zaman.

Talkshow bersama Suci Permata dan Syawlani Affandi sebagai narasumber, serta dipandu Niken Agriyena sebagai moderator, Selasa (13/10/2026). Kegiatan ini mengajak pelaku UMKM melihat peluang baru di tengah perkembangan dunia digital. Kreativitas bukan lagi sekadar pelengkap usaha, melainkan salah satu kekuatan untuk membangun merek, menarik perhatian konsumen, dan memenangkan persaingan.

Diskusi tersebut menjadi ruang berbagi wawasan bagi pelaku usaha dan masyarakat tentang pentingnya literasi branding dan kreativitas konten dalam menghadapi persaingan bisnis di era digital.

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan perilaku belanja masyarakat, produk berkualitas perlu didukung dengan identitas yang kuat dan strategi komunikasi yang tepat. Nama merek yang mudah diingat, kemasan yang menarik, foto produk yang menggugah, hingga konten yang mampu bercerita dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan produk kepada lebih banyak orang.

Melalui pembahasan ini, peserta diajak memahami bahwa branding bukan sekadar logo, nama, atau tampilan kemasan. Branding merupakan cara sebuah usaha membangun karakter, kepercayaan, dan hubungan dengan pelanggan. Sementara itu, konten menjadi sarana untuk memperkenalkan produk, menceritakan proses di balik usaha, dan membangun kedekatan dengan calon konsumen.

Kemampuan tersebut membutuhkan literasi, mulai dari kecakapan memahami informasi, merangkai pesan, memilih media komunikasi, hingga memanfaatkan platform digital secara kreatif dan bertanggung jawab. Dengan pendekatan yang tepat, produk lokal berpeluang menjangkau pasar yang lebih luas dan memiliki daya saing yang lebih kuat.

Talkshow ini sekaligus memperluas makna festival literasi sebagai ruang belajar yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Literasi tidak berhenti pada peningkatan minat baca, tetapi juga dapat menjadi bekal untuk mengembangkan keterampilan, membuka peluang ekonomi, dan mendorong lahirnya pelaku usaha yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Sebab, literasi bukan hanya tentang seberapa banyak halaman yang dibaca, tetapi juga tentang seberapa jauh pengetahuan mampu menggerakkan perubahan. Dari ide lahir kreativitas, dari kreativitas tumbuh inovasi, dan dari inovasi terbuka peluang bagi UMKM Payakumbuh untuk semakin maju, mandiri, dan berdaya saing. (Syafrianto.I)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *